|
|
|
Aku selalu mengatakan bahwa membuat website itu bukanlah hal yang sulit. Tetapi pada kenyataannya, setiap kali membaut website selalu saja berlarut-larut dan seringkali malah tidak jelas statusnya, apakahs udah selesai atau belum. Seringkali masalahnya karena justru materi yang akan digunakan untuk website belum siap. Atau bahkan belum ada.
Tapi tidak dengan yang satu ini. Hanya dalam waktu setengah hari, website ini sudah jadi. Dan karena pemiliknya sudah terbiasa update website, sekarang tinggal menunggu dia akan melengkapi isinya sendiri.
Ada kalanya aku pengen banget nulis. Berlembar-lembar sobekan kertas, terisi dengan plot dan garis besar tulisan yang akan aku buat.
Ada yang kelihatannya cocok di blog. Ada yang menurutku bisa jadi cerpen. Atau sekedar review. Bahkan ada yang kubayangkan akan menjadi sebuah novel.
Hasilnya …??? NOL BESAR.
Bahkan untuk sekedar update blog aja sekarang males banget. Ga’ tau kenapa …
HUH !!!
ga’ sengaja, nemu postingan ini :
Hari ini aku update blog lagi.
Update apaan sih?
Update tulisan.
Yang mana?
Ya yang ini laaaah. Gimana sih?
Huh!
Update yang aneh !!!
Masih pagi. Pagi banget. Ketika aku melihat bidadari itu memasuki kamar mandi. Telanjang. . Tanpa mengeluh (seperti biasanya) dia langsung menyiramkan air ke badannya. Tidak seperti hari-hari biasa, ketika ritual ngambek dan rewel selalu ada. Padahal saat itu baru pukul 04.10 dini hari.
Dan dengan sigap, dia sudah rapi. Mengenakan kaos putih berhias daleman warna pink warna favoritnya, bidadariku dalam sekejap sudah siap pergi. Celana jins biru melengkapi penampilannya pagi ini.
Pukul 04.35 kami siap berangkat. Menaklukkan dinginnya minggu pagi, menemui sang jagoan. Bidadariku berseri-seri. Kangennya akan terobati. Menuntaskan rindu yang selama ini hanya bisa dilampiaskan dengan menuliskan gabungan nama di setiap game yang dimainkannya. Detha Angga. Atau Angga Detha.
Selamat pagi jagoan. Kami akan datang ke sana, melihatmu beraksi. Sekaligus menuang kangen sebelum menjadi basi.
Kadang seringkali aku ada pada satu kondisi, dimana aku berpikir bahwa pada saat itu aku sedang tidak bisa berpikir. Terlalu banyak yang harus aku pikirkan sehingga membuatku tiba-tiba menyadari bahwa aku justru tidak berpikir apa-apa.
Seperti beberapa hari terakhir ini. Banyaknya masalah yang harus aku hadapi secara bersamaan - membuat aku sama-sekali tidak lagi harus mengambil langkah bagaimana untuk menyelesaikannya.
Tiba-tiba saja aku membanyangkan, seandainya saja aku bisa berada di banyak tempat dalam satu saat yang sama, atau aku mempunyai keleluasaan di segala hal, pastilah masalah yang aku hadapi bisa segera terpecahkan dengan segera.
Dan aku menyadari, ketika aku berpikir begitu, aku menyimpulkan bahwa itu adalah cara berpikir orang yang sudah tidak bisa berpikir lagi.